Keutamaan Shalat Idul Fitri



Hari raya idul fitri adalah hari raya yang Allah SWT syariatkan untuk umat Islam agar mereka bergembira dengan limpahan nikmat dan ampunan Allah SWT setelah mereka menjalankan shaum Ramadhan dan qiyam (shalat tarawih dan witir) selama sebulan penuh. Pada hari raya ini Allah SWT mensyariatkan shalat idul fitri

Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW tiba di Madinah sedangkan penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk mereka rayakan. Maka beliau bertanya, "Dua hari apa ini?" Mereka menjawab, "Pada dua hari ini, kami biasa bermain pada masa jahiliyah." Maka beliau bersabda, "Allah SWT telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik: idul adha dan idul fitri."(HR. Abu Daud no. 1134, An-Nasai, 3/179, Ahmad no. 11826, Al-Hakim no. 1041, Abu Ya'la no. 3717, dan Ath-Thahawi dengan sanad shahih) 
Hukum Shalat Idul Fitri 



Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat idul fitri: 
  • Sunah muakkadah yaitu sunah yang sangat ditekankan. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) Ulama. 
  • Fardhu Kifayah yaitu wajib atas seluruh umat Islam sebagai satu kesatuan umat, namun apabila sebagian kaum muslimin sudah menjalankannya dengan baik, berarti kewajiban melaksanakan shalat 'Ied itu telah gugur bagi orang lain. Pendapat ini adalah pendapat yang terkenal di kalangan madzhab Hambali. 
  • Fardhu 'Ain yaitu wajib atas setiap individu muslim dan muslimah. Barangsiapa tidak melaksanakannya berarti berdosa besar.. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyah serta pendapat salah satu riwayat dari Imam Ahmad. 

Jumlah Rakaat Shalat Idul Fitri


Jumlah raka’at shalat Ied ada dua berdasaran riwayat Umar radhiyallahu ‘anhu. “Artinya : Shalat safar itu ada dua raka’at, shalat Idul Adha dua raka’at dan shalat Idul Fitri dua raka’at. dikerjakan dengan sempurna tanpa qashar berdasarkan sabda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Dikeluarkan oleh Ahmad 1/370, An-Nasa'i 3/183, At-Thahawi dalam Syarhu Ma'anil Al Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya Shahih)

Waktu Shalat Idul Fitri


Shiddiq Hasan Khan menyatakan : Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah setelah tingginya matahari seukuran satu tombak sampai tergelincir. Dan terjadi ijma (kesepatakan) atas apa yang diambil faedah dari hadits-hadits, sekalipun tidak tegak hujjah dengan semisalnya. Adapun akhir waktunya adalah saat tergelincir matahari” [Al-Mau'idhah Al-Hasanah 43,44] 


Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi : Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat Idul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat Idul Fithri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka” [Minhajul Muslim 278] 

Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Berkata Ibnul Qayyim :“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Dan adalah Ibnu Umar dengan kuatnya upaya dia untuk mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar hingga matahari terbit” [Zadul Ma'ad 1/442] 

Peringatan : Jika tidak diketahui hari Id kecuali pada akhir waktu maka shalat Id dikerjakan pada keesokan paginya. Abu Daud 1157, An-Nasa’i 3/180 dan Ibnu Majah 1653 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal (bulan tanggal satu) kemarin, maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka dan pergi ke mushalla mereka keesokan paginya”

Shalat Idul Fitri dilaksanakan sebelum khotbah
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Saya mengikuti shalat id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum. Mereka semua melaksanakan shalat ied sebelum khotbah.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Shalat Idul Fitri Dan Bacaannya


Tata Cara Shalat ‘Ied 

Jumlah raka’at shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut. (Shahih Fiqh Sunnah, 1/607)

Lebih Utama Mana, Shalat di Mushala Dekat Rumah atau di Masjid Komplek?


Assalamu’alaikum, Wr. Wb., Ustadz,

Saya mau bertanya beberapa hal :
  1. Apa beda mushalla dengan masjid? Dan apakah jaman Nabi Muhammad SAW ada mushalla?
  2. Mana yang kita dahulukan shalat di mushalla komplek perumahaan saya tempat tinggal atau mesjid yang ada di simpang komplek perumahaan saya (jarak mushala dengan rumah saya lebih kurang 150 meter dan jarak masjid dengan rumah saya lebih kurang 500 meter).
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, kami minta arahaannya sesuai dalil yang ada. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalam. Deni Okta

Wa’alaikum salam wr.wb.

Untuk pertanyaan antum, dapat dibagi dalam dua pembahasan berikut.

Pertama, secara definisi masjid bermakna tempat sujud, dan secara makna syari’at adalah tempat dilaksanakan shalat. Dalam istilah fikih masjid dimaknai tempat dilaksanakannya shalat fardhu secara berjamaah lima kali dalam sehari. Sedangkan masjid jami’ (masjid agung dalam bahasa Indonesia) adalah tempat dilaksanakannya shalat fardhu secara berjamaah lima kali dalam sehari dan yang dilaksanakan untuk shalat jum’at. Dalam istilah lain masjid jami’ disebut masjid yang ada mimbar, maksudnya yang digunakan untuk shalat jum’at.

Sementara mushalla secara bahasa adalah berarti tempat shalat. Dalam istilah fikih, mushala didefinisikan sebagai lapangan tempat ditunaikan shalat ied dan sejenisnya secara berjamaah. Seperti tergambar dalam hadits Nabi, “Siapa yang diberi kelapangan rezeki, dan tidak berqurban, maka dilarang mendekati mdushala kami (yaitu lapangan tempat dilaksanakan shalat ied).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu, dapat kita ambil kesimpulan, mushala, atau langgar, tajug adalah masjid jika di dalamnya dilaksanakan shalat fardhu secara berjamaah. Di negara-negara Arab, untuk menyebut mushala (dalam bahasa kita) selain masjid, juga disebut zawiyah. Karena itu shalat di mushala bernilai pahala layaknya shalat di masjid.

Pada masa Nabi saw, istilah mushala juga digunakan untuk tempat shalat yang berada di bagian rumah. Atau pada masa sekarang bisa di kantor, toko, atau ruangan yang kita jadikan tempat shalat, dan juga berfungsi untuk yang lain dan tidak untuk rutinitas shalat berjamaah untuk khalayak umum. Sebagaimana disebutkan bahwa Rasul saw sering melaksanakan shalat sunnah di rumahnya, sedangkan shalat fardhu di dalam masjid. Tempat shalat beliau di dalam rumah dapat disebut mushala. Demikian pula dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ‘Itban bin Malik ra pernah meminta Rasul saw shalat di salah satu sudut rumahnya.

Kedua, mengenai keutamaannya, tentu shalat berjamaah baik di mushala (masjid) atau di masjid agung (masjid jami’) sama bernilai utama dalam pandangan Allah SWT. Namun bila dipandang mana yang lebih utama, dan mana yang lebih dipilih, antara masjid yang lebih jauh atau mushala yang lebih dekat tentu nilainya adalah sama. Karena yang utama hanya tiga masjid, sebagaiaman yang disebutkan dalam hadits, “Shalat di masjidil haram (Mekkah) setara dengan 100.000 shalat di masjid lainnya, shalat di masjidku (Nabawi) setara 1.000 shalat di masjid lainnya, dan shalat di baitil maqdis (al-Aqsha) senilai 500 kali lipat shalat di masjid lainnya.” (HR. al-Baihaqi)

Memang ada hadits di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, bahwa shalat berjamaah menjadi lebih dicintai Allah SWT jika semakin banyak jumlah jamaahnya. Karena itu ada yang memilih shalat berjamaah di masjid (karena biasanya jamaah lebih banyak), namun menjadi masalah jika mengakibatkanpembiaran mushala di dekat rumah kosong dan tak terurus. Oleh sebab itu perlu diperhatikan bahwa menghidupkan mushala yang ada di sekitar kita adalah menjadi tanggungjawab orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, lebih baik kita menghidupkan shalat berjamaah di mushala (masjid) yang terdekat dengan rumah kita dan memakmurkannya. Dan terus memotivasi agar lebih banyak jamaah yang shalat berjamaah di mushala. Karena orang-orang yang terdekat lebih bertanggungjawab memakmurkannya. Semoga pahala memakmurkan menjadi tambahan dari nilai pahala shalat jamaah di masjid dan poin ketakwaan di sisi Allah swt. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah : 18)

Wallahu’alam.

Sumber: www.islampos.com