• Makkah

    Makkah

  • Makkah

    Makkah

  • Madinah

    Madinah

  • Madinah

    Madinah

  • Al Aqsa

    Al Aqsa

Berapa Persen Standar Keuntungan Dalam Berdagang?
Damara Niaga Abadi 0 komentar


Adakah batasan keuntungan dalam berdagang? Bolehkah kita mengambil keuntungan berlipat-lipat?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata, “Keuntungan itu tidak dibatasi. Boleh saja diambil keuntungan 10, 20, 25% atau lebih dari itu, asalkan tidak ada pengelabuan dalam jual belinya. Besarnya keuntungan di sini dibolehkan selama tidak ada ghoban (pengelabuan).”[Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 9: 280.]

Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz -semoga Allah senantiasa merahmati beliau- ditanya mengenai standar keuntungan syar’i dalam berdagang. Kemudian bolehkah seseorang membeli suatu barang dengan harga 50 riyal lalu ia jual 80 atau lebih dari itu?

Jawab beliau rahimahullah:

Perlu diketahui bahwa tidak ada batasan keuntungan (menurut syari’at). Keuntungan bisa saja banyak, bisa pula sedikit. Kecuali jika sudah ada batasan harga di pasaran dengan harga tertentu, maka tidak boleh konsumen dikelabui saat itu. Bahkan sudah sepantasnya si pedagang memberitahukan pada pelanggannya bahwa barang ini ada dengan harga sekian dan sekian, namun harga yang ia patok adalah demikian. Jika si pelanggan berminat dengan harga seperti itu, maka tidaklah masalah.

Akan tetapi lebih baik memberikan harga seperti yang telah ada di pasaran. Adapun jika harga barang tersebut belum ada di pasaran dan belum ada standarnya, maka ia boleh menjual barang tersebut sesukanya dengan harga yang ia inginkan walau dengan keuntungan 30%, 50% atau semisal itu. Ini jika barang tersebut tidak ada standar harga.

Sekali lagi syari’at tidak menetapkan besarnya keuntungan bagi si pedagang. Akan tetapi seorang mukmin hendaknya memudahkan saudaranya. Hendaknya ia tetap suka walau mendapatkan keuntungan sedikit. Kecuali jika suatu saat kondisi berubah, barang yang ada berubah atau naiknya harga barang karena sedikitnya pasokan atau ada sebab lainnya sehingga keuntungan mesti ia tambah.

Adapun jika seorang pedagang mengelabui orang yang tidak berdaya apa-apa atau ia menipu orang miskin dan ia menjual dengan harga yang terlalu tinggi, maka itu tidak boleh. Hendaknya ia menetapkan harga dengan harga standar seperti yang orang-orang jual. Kecuali jika ia menjual dengan ia katakan bahwa harga standar demikian dan demikian, sedangkan ia jual dengan harga seperti ini, maka seperti itu tidaklah masalah asalkan ia telah jelaskan sesuai realita atau karena alasan pasar yang jauh. Ketika ia naikkan harga seperti itu, ia sudah jelaskan alasannya. [Sumber fatwa: http://www.binbaz.org.sa/mat/19167]

Penerbit: Pustaka Muslim Yogyakarta
Judul Buku: Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Kisah Ustad Yusuf Mansur Melunasi Hutang Milyaran Rupiah
Damara Niaga Abadi 0 komentar


Lewat materi sedekah, Ustad Yusuf pada pekan lalu berhasil mengumpulkan uang lebih dari 60 juta saat mengadakan tausiah di Bali. “Kalau saya tidak bisa sedekah sebesar itu. Yang saya bisa lakukan adalah menggerakkan orang untuk bersedekah,” ucap Ustad Yusuf merendah. Ustad Yusuf Mansur menjelaskan, banyak manfaat dari mengajak orang untuk bersedekah. Apalagi ditambah dengan ajakan lain semisal Shalat Sunnah Dhuha, Shalat Sunnah Tahajud, dan amal shaleh lainnya

Nasihat Kubur Dari Anak Kecil Kepada Bapaknya
Damara Niaga Abadi 0 komentar


“Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk neneknya. “Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah.” Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah. " kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun.“

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini : 19-02-1882 - 30-01-1910″

“Hmm... kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah” jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

“Hmmm, ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka ” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?” Ayahnya tersenyum, “Lalu?”

“Iya ... kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur ya nggak yah?”

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya. 36 tahun hingga sekarang kalau kiamat datang 100 tahun lagi. 136 tahun disiksa atau bahagia di kubur. Lalu ia menunduk meneteskan air mata

Kalau ia meninggal lalu banyak dosanya lalu kiamat masih 1.000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1.000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un. air matanya semakin banyak menetes. Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1.000 tahun ke depan, kalau 2.000 tahun lagi ? Kalau 3.000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur, lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah, ia semakin menunduk, tangannya terangkat keatas, bahunya naik turun tak teratur, air matanya semakin membanjiri jenggotnya. Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani. Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu… dibetulkannya selimutnya.

Yani terus tertidur tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya, arti sebuah kehidupan dan apa yang akan datang di depannya

Hukum Membayangkan Wanita Lain saat Bercinta dengan Istri
Damara Niaga Abadi 0 komentar


Assalamu’alaikum. Bolehkah seorang suami membayangkan wanita lain saat berhubungan dengan istrinya? Misalnya membayangkan artis atau mantannya. Sebab dengan berfantasi seperti itu ia dapat merasakan sensasi yang berbeda. Bagaimana pula hukumnya jika si istri yang membayangkan bersama laki-laki lain?

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullah.
Islam adalah agama yang mengajarkan untuk menjaga hati dan jiwa, senantiasa mengingatkan agar tidak mengotorinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikannya. Dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya” (QS. Asy Syams : 9-10)

Membayangkan wanita lain saat berhubungan dengan istri termasuk hal yang mengotori jiwa. Dan hal ini dilarang dalam Islam. Hal sama juga berlaku bagi istri. Tidak halal baginya untuk membayangkan laki-laki lain ketika ia sedang berhubungan suaminya. Termasuk juga, membayangkan berhubungan dengan orang lain, dalam kondisi apapun. Hal ini termasuk zina hati, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak bisa dielakkannya. Zinanya mata adalah melihat. Zinanya telinga adalah mendengar. Zinanya lisan adalah berucap. Zinanya tangan adalah menyentuh dan meraba. Zinanya kaki adalah melangkah. Zinanya hati adalah berangan-angan, dan kemaluanlah yang akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam An Nawawi mengatakan bahwa setiap anak Adam telah ditakdirkan untuk melakukan zina. Diantara mereka ada yang melakukan zina sebenar-benarnya. Ada pula yang zinanya secara majazi (kiasan), yaitu dengan melihat perkara-perkara yang haram, atau dengan mendengar sesuatu yang mengajak kepada perzinaan dan apa saja yang mendekatkan kepada zina, termasuk dengan menyentuh wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya. Atau melangkahkan kaki menuju ke tempat zina… atau berangan-angan dan memikirkan di dalam hati…

Secara umum, membayangkan wanita lain ini juga masuk dalam larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

“Dan janganlah kamu mendekati zina” (QS. Al Isra’ : 32)

Jika seseorang sering membayangkan orang lain, terutama yang bisa dijangkaunya, bukan tidak mungkin ketika ada kesempatan, ia melakukannya secara nyata dengan orang tersebut. Na’udzu billah.

Selain itu, membayangkan wanita lain saat berhubungan dengan istrinya merupakan pengkhianatan terselubung. Pun sebaliknya, seorang wanita yang membayangkan laki-laki lain pada saat ia bersama suaminya merupakan pengkhianatan terselubung pada suaminya tersebut.

Membayangkan wanita lain ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada zaman dahulu juga telah muncul kasus serupa, dan karenanya para ulama telah memberikan fatwa. Jumhur ulama’ baik dari mazhab Maliki, Hanafi, Hanbali maupun Syafi’i menyatakan bahwa membayangkan wanita lain saat berhubungan dengan istri adalah haram.

Ibnul Hajj al Maliki mengatakan, ”Termasuk perbuatan tercela di masyarakat adalah seorang laki-laki melihat seorang wanita yang menarik hatinya, kemudian ia membayangkan wanita tersebut saat berhubungan dengan istrinya. Ini termasuk zina.”

Ibnu ‘Aqil (ulama mazhab Hanbali) menyatakan hal senada. “Jika ada seorang suami membayangkan wanita lain yang diharamkan baginya ketika ia berhubungan dengan istrinya, maka dia berdosa.”

Ibnu Abidin al Hanafi dan Al Iraqi (Syafi’i) juga mengharamkannya, dengan alasan memvisualisasikan wanita lain adalah kemaksiatan.

Wallahu a’lam bish shawab. 

Sumber: www.keluargacinta.com

Kisah Doa-Doa Unik Yang Dikabulkan Allah SWT
Damara Niaga Abadi 0 komentar


Al Qur’an sering memberikan pelajaran kepada kita melalui kisah. Tentu, kisah yang dipaparkan dalam Al Qur’an adalah kisah nyata.

Diantara kisah-kisah itu, ada kisah tiga doa unik yang dikabulkan oleh Allah SWT. Doa apa, dipanjatkan oleh siapa, mengapa unik dan bagaimana dikabulkan Allah SWT? Mari kita simak.

Doa Nabi Ayyub

Kisah doa Nabi Ayyub AS ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 83-84.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah disentuh bahaya (musibah/penyakit) dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadaya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al Anbiya’ : 83-84)

Di mana uniknya doa ini? Nabi Ayyub AS diuji oleh Allah SWT selama tujuh tahun. Ia yang semula kaya raya tiba-tiba jatuh sakit. Karena sakit, ia tak dapat lagi bekerja dan kekayaannya yang bersumber dari bidang pertanian-peternakan itu pun akhirnya habis. Penyakitnya tergolong penyakit yang menular sehingga masyarakat mengusirnya dengan alasan tidak mau tertular. Penyakit itu pun lalu menulari anak-anak Nabi Ayyub AS. Satu per satu tertular, sakit, akhirnya meninggal. Hingga seluruh anaknya yang berjumlah sembilan itu pun meninggal.

Nabi Ayyub AS baru berdoa ketika mengetahui istrinya menjual rambutnya hingga gundul. Sebelumnya ia bekerja sebagai pembantu agar Nabi Ayyub AS dan dirinya bisa makan. Namun karena pekerjaan itu tak ada lagi, ia menjual rambutnya tanpa sepengetahuan Nabi Ayyub AS. Begitu Nabi Ayyub AS tahu istrinya menjual rambut demi mendapatkan makanan, ia pun berdoa. Dan lebih unik lagi, doa ini sama sekali tidak ada lafadz meminta. Ia hanya mengadu, bahwa dirinya sedang tersentuh musibah. Doanya juga pendek, meskipun musibahnya panjang.

Setelah Nabi Ayyub AS berdoa, Allah SWT kemudian mengabulkan doa ini dengan segera. Ia kembali sehat. Hartanya kembali banyak. Dan mereka berdua kembali memiliki anak yang jumlah dan jenis kelaminnya sama dengan anak-anak sebelumnya; sembilan putri.

Doa Nabi Yunus AS

Kisah doa Nabi Yunus AS ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 87-88.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiya’ : 87-88)

Kondisi sangat gelap yang dimaksud ayat ini adalah, Nabi Yunus AS ditelan ikan Hiu. Berada di dalam perut ikan hiu di dalam lautan yang gelap adalah kegelapan yang teramat sangat. Pada saat itulah ia berdoa, dengan doa yang unik. Tidak ada lafadz minta dikeluarkan dari perut ikan Hiu, tetapi Nabi Yunus AS hanya bertauhid, menyucikanNya dan mengakui kesalahannya. Fastajabnaa lahu, maka Allah SWT pun mengabulkan doa itu.

Doa Nabi Zakaria AS

Kisah doa Nabi Zakaria AS ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 89-90

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang Paling Baik” Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadaNya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami” (QS. Al Anbiya’ : 89-90)

Kisah doa Nabi Zakariya AS ini tak kalah ajaib. Usianya sudah mencapai 80 tahun dan istrinya mandul, namun Allah SWT mengabulkan doa Nabi Zakariya AS. Allah SWT memberinya putra lengkap dengan namanya Yahya, dengan cara ashlahnaa lahu zaujah, memperbaiki rahim istrinya. Uniknya, doa Nabi Zakariya AS juga tidak secara langsung meminta anak, tetapi ia meminta tidak dibiarkan hidup sendiri.

Hari ini kita banyak berdoa, doa kita bahkan panjang-panjang. Namun, kadang banyak yang mengeluh doa itu tidak juga terkabul. Maka kita perbaiki iman kita, kita perbaiki ibadah kita, dan yakinlah Allah SWT akan mengabulkan doa kita. Apalagi apa yang kita minta tidaklah lebih ajaib dari musibah Nabi Ayyub AS, tidak lebih ajaib terselamatkannya Nabi Yunus AS, tidak lebih ajaib dari anak yang diminta Nabi Zakariya AS saat ia telah lanjut usia.

Dan kita perlu tahu, lafadz doa tidak harus detail dan terang-terangan seperti apa yang kita minta, karena Allah SWT mengetahui apa yang kita inginkan dan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: www.kisahikmah.com

Musibah Datang Boleh Jadi Karena Dosa
Damara Niaga Abadi 0 komentar


Ketika musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam, artinya alam itu murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olaharga dan seterusnya. Ketika kita terzholimi oleh atasan atau majikan karena belum telat gaji bulanan, kadang yang jadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang dijuluki pelit atau bakhil.

Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah SWT mendatangkan musibah, menurunkan penyakit atau ada yang menzholimi kita. Coba kita renungkan ayat yang akan dibahas berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Ayat ini adalah sebagai renungan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain ketika kita terzholimi. Boleh jadi musibah itu datang karena dosa syirik, tidak ikhlas dalam amalan, amalan bid’ah, dosa besar atau meremehkan maksiat yang kita perbuat hari demi hari. Semoga Allah SWT melepaskan berbagai musibah yang menimpa kita. Aamiin. wallahu a'lam bishawab